Ketua Program Studi D3 Teknologi Informasi Politeknik Nest bersama dosen dari Universitas Sebelas Maret (UNS) mendapatkan kehormatan untuk menjadi pembicara dalam kegiatan In House Training (IHT) yang digelar oleh SMA N 1 Tawangsari Sukoharjo. Tema utama kegiatan ini adalah pemanfaatan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam mendukung pembelajaran abad 21.
Kegiatan IHT ini diikuti oleh seluruh guru mata pelajaran. Melalui kegiatan tersebut, para guru mendapatkan wawasan baru mengenai bagaimana teknologi AI dapat dimanfaatkan secara praktis untuk menunjang proses belajar mengajar, sekaligus meningkatkan keterampilan digital yang semakin dibutuhkan di era saat ini.
Wakil Kepala Sekolah dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kesediaan dosen-dosen perguruan tinggi untuk berbagi ilmu dengan para guru di sekolah. Ia menilai materi yang disampaikan sangat relevan dengan kebutuhan guru di tengah derasnya arus perkembangan teknologi.
“Materi ini sangat baik dan tepat untuk guru semua mata pelajaran. AI bukan hanya untuk bidang teknologi informasi saja, tetapi bisa diterapkan di berbagai konteks pembelajaran, sehingga guru dapat terbantu dalam menciptakan metode belajar yang lebih efektif dan menarik,” ujarnya.
Kaprodi Prodi D3 Teknologi Informasi, Muhammad Hassan Massaty, S.Pd., M.Pd menekankan pentingnya keberanian guru untuk mencoba teknologi baru dalam mengajar. Ia juga berbagi praktik baik berupa contoh penerapan AI yang sederhana namun berdampak, seperti penggunaan aplikasi berbasis AI untuk pembuatan media ajar, analisis hasil belajar siswa, hingga mendukung personalisasi pembelajaran sesuai kebutuhan individu siswa.
Sementara itu, dosen dari PTIK FIKP UNS, Slamet Kurniawan Fahrurozi, S.Pd., M.Pd lebih banyak menyoroti pentingnya kolaborasi antarpendidik. Menurutnya, pemanfaatan AI tidak hanya soal menguasai alat, tetapi juga bagaimana guru dapat bekerja sama, berbagi pengalaman, serta membangun jejaring untuk menghadirkan pembelajaran yang adaptif. “Kita perlu saling kolaborasi dan berbagi praktik baik. Dengan begitu, guru tidak merasa sendirian menghadapi perubahan teknologi, melainkan tumbuh bersama dalam komunitas yang saling mendukung,” jelasnya.
Melalui sesi interaktif, para guru juga diberikan kesempatan untuk berdiskusi dan mencoba langsung beberapa aplikasi AI yang dapat digunakan dalam kegiatan belajar sehari-hari. Antusiasme terlihat dari banyaknya pertanyaan dan ide-ide baru yang muncul dari para guru.
Kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang transfer pengetahuan, tetapi juga menjadi pemantik bagi para guru untuk lebih terbuka terhadap teknologi. Dengan memanfaatkan AI secara bijak, guru dapat menghadirkan pembelajaran yang lebih kreatif, efisien, dan sesuai dengan karakter generasi digital saat ini.



